Batu Bata Pembentuk Masa Depan


tanpa disadari, saat ini kita sedang membangun sebuah masa depan. mau seperti apakah masa depan yang kita inginkan? apakah kita akan bahagia di masa yang akan datang itu atau akan sebaliknya? bagaimana cara membangun masa depan yang sukses?

ibaratkanlah bahwa masa depanmu itu sebuah bangunan yang kokoh. maka, mulailah mencari bahan baku untuk membentuknya. bahan baku itu seperti batu bata dan pasir.

apa sih batu bata pembentuk masa depan itu? yups, kerja keras dan usaha yang dilakukan untuk mencapai cita-cita yang sesuai dengan kehendak kita. usaha yang kita lakukan itulah yang akan membentuk sebuah impian yang kita harapkan.

jika ubatu bata itu didapat dari kerja keras yang maksimal, maka insya Allah kita akan mencapai sebuah masa dengan yang diinginkan. tetapi, jika batu bata itu tidak kuat, kita kurang kerja keras, tidak maksimal dalam usaha dan doa, kemungkinan cita-cita itu akan sulit untuk dicapai.

Kereta Kencana Syaikh Ibnu Hajar Al-Atsqolani


Syaikh Ibnu Hajar Al-Atsqolani adalah ilmuan dan penulis buku Fathul Bari Syarah Shahih Al-Bukhari. Suatu saat, Syaikh Ibnu Hajar Al-Atsqoani berpergian keluar rumah. Ia menggunakan kereta kuda yang sangat bagus (kereta kencana). Maklum di zamannya belum ada kendaraan mewah sekelas Lamborghini V8.

Di tengah jalan, ia bertemu dengan seorang yahudi yang miskin. Lalu yahudi itu berkata, “Yaa Syaikh, kenapa engkau tidak berlaku Zuhud seperti yang diajarkan agamamu?” Sebelum saya menuliskan jawaban dari Syaikh Al-Atsqolani, saya ingin menyampaikan salah satu sifat oang yahudi. Orang yahudi itu adalah orang yang pintar. Ia mengetahui semua ajaran Islam. Namun saying, mereka tidak ingin melaksanakannya. Buktinya seperti orang yahudi yang ditemui oleh imam Ibnu Hajar tersebut. Contoh lain, suatu saat, yahudi yang lain mengungkapkan kepada salah seorang Sahabat Nabi dengan berkata, “Nabimu itu sampai-sampai mengajarkan cara-cara bersuci dari hadats kecil. Tidak tahu apa maksudnya ungkapan yahudi ini. Apa dia memuji atau justru menghina agama Islam. Yang jelas, yahudi itu pintar dan tahu ajaran Islam, tapi tidak mau melaksanakannya.

Kembali kepada cerita Syaikh Al-Asqolani di atas. Lalu, dijawablah pertanyaan Yahudi tersebut, “hai orang Yahudi, Nabiku pernah bersabda: ‘Dunia penjara orang beriman surga bagi orang-orang kafir’ (Sunan Ibnu Majah: Bab Zuhud Hadits No: 4113).

Yahudi itupun menanyakan maksud dari hadits itu, lalu Al-Atsqolani menjelaskannya. “dunia ini adalah penjara bagi kaum mukmin, karena akan ada keindahan yang lebih besar saat di akhirat kelak. Penjaranya seorang mukmin seperti aku dapat menaiki kereta yang bagus, apalagi kelak di akhirat. Adapun engkau, yahudi atau kafirin di dunia ini engkau merasakan kemiskinan dan itu sudah cukup seperti surge, karena di akhirat kelak engkau akan masuk neraka yang panas.”

Sang Yahudi pun tertegun dan seketika kemudian ia menyatakan masuk Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Syaikh Ibnu Hajar Al-Atsqoani. Subhanalloh.