Keteladanan Nabi Muhammad SAW.


Anak-anakku yang Bapak banggakan, seperti yang kita ketahui bersama bahwa beberapa waktu yang lalu ada momentum Maulid Nabi Muhammad SAW. Patutlah kita ambil pelajaran dari kelahiran Nabi Muhammad SAW., panutan kita semua ini.

Baginda Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlak, sebagaimana sabdanya yang artinya, “Aku dilahirkan ke dunia ini untuk menyempurnakan (memperbaiki akhlak manusia.” (HR. Ahmad)

Kehidupan Bangsa Arab pada awal diutusnya Rasulullah SAW. sangatlah buruk. Seorang ayah tega membunuh anak perempuannya, karena anak perempuan dianggap sebagai aib; banyak terjadi pertikaian antar suku, peperangan dan lain sebagainya. Dengan kehadiran Nabi Muhammad, semua perbuatan yang buruk tadi dapat dihilangkan dari budaya bangsa arab. Dari jaman jahiliyah kepada jaman pencerahan, baik bagi bangsa Arab maupun bagi bangsa-bangsa lainnya di pelosok dunia. Maka Jadi jelaslah bahwa Rasulullah SAW itu adalah teladan yang harus kita ikuti semua perbuatannya. Karena, beliaulah pembawa perintah Allah SWT. Sekaligus membimbing kita untuk menjalani kehidupan ini dengan sebaik mungkin. Continue reading

Ketemu Jodoh, gara-gara Bersin


Maha Suci Allah, yang menyatukan dua jiwa menjadi halal dari semula haram bersentuhan, bahkan saling pandang.Malam tadi saya dapat cerita dari temen via sms. Ia bercerita tentang temannya yang menikah hanya karena gara-gara BERSIN.

“hah? Bensin? ketemu di SPBU dong??” celetuk saya kaget dan langsung tertawa terpingkal-pingkal setelah itu. karena saya salah baca, kirain bensin, ternyata bersin, hahaha… “Ya, namanya juga Jodoh. dari lubang semut juga, kalo udah ada di lauhul mahfudznya gitu ya gitu.” jawab temen saya itu yang bernama Afnan Alyaa. lalu saya pun mengomentarinya lagi, “lho, masa kita nikah ama semutnya?” dan temen saya saya pun ngambek lagi, “Bukan begitu nduullll. Itu hanya perumpamaan saja.” saya pun kembali tertawa karena pernyataannya yang lucu itu. dan Afnan pun memulai ceritanya…,,,,…..

saya mempunyai temen perempuan (sebut saja Aisyah), setiap hari dia berangkat bekerja ke kantornya di Jakarta menggunakan jasa kereta api dari stasiun Bekasi. Suatu hari  dia sedang menunggu kereta di peron. Beberapa saat kemudian Aisyah pun ga kuat untuk bersin, “Haaattcchhiimm” lalu dia berbisik kecil “Alhamdulillah”, tanpa sadar ternyata ada suara yang membalas hamdallahnya itu dengan bacaan “Yarhamukillah.” Aisyah pun celingak celinguk mencari sumber suara. ternyata, di belakang kursi yang aisyah duduki, ada seonggok pria tinggi. Wajahnya teduh, ada sedikit jenggot yang menggantung dan pakaiannya rapih. memakai tas ransel, sendal gunung dan tentunya celana hitam yang sedikit ishbal.

langsung saja Aisyah menundukkan pandangannya. setelah melihat tampilan si lelaki ini, Aisyah pun langsung jatuh hati kepada lelaki ini (yang sebut saja namanya Ahmad).  setiap hari saat Aisyah berangkat dan pulang kantor ia selalu mencari sosok pria tersebut.

Ternyata, ikhtiarnya tidak sia-sia. Delapan bulan berselang, Aisyah pun mengajukan ingin menikah kepada orang tua dan guru ngaji-nya. Lalu, dipertemukanlah Aisyah oleh guru ngajinya tersebut dengan seorang lelaki. Dan, yang paling mengejutkan adalah ternyata lelaki ini adalah orang yang Aisyah cari-cari di stasiun kereta api 8 bulan sebelumnya. Ia adalah orang yang menjawab “yarhamukillaah”.

Sungguh beruntung Aisyah mendapatkan suami yang ia ingini. Selidik diselidiku, lelaki itu pun yang benama Ahmad ternyata mempunyai perasaan yang sama saat mereka bertemu.

Subhanalloh, pucuk dicinta ulam pun tiba..

*ini kisah nyata sebagai mana yang telah teman saya ceritakan, Afnan Alyaa.

Gust, Bagus dan Tubagus


Perkenalkan, nama saya Gust Kemal. Lengkapnya Gust Kemal Prihadi, A. Md. Kom.

Jika Anda pertama kali bertemu dengan saya, maka Anda akan mengira bahwa saya adalah cucunya Gus Dur. Ada juga yang mengira bahwa saya adalah orang Jawa Tengah, Jawa Timur atau bahkan Bali.

Yups, itulah pengalaman saya jika bertemu dengan orang-orang baru. Padahal saya asli keturunan Sunda, lahir di Rumah Sakit Umum Pusat Hasan Sadikin Bandung pada 7 Agustus 1989.

Waktu itu, bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1410. Awalnya, saya diberi nama Agus Muharram oleh Mamah. Lalu, Bapak saya juga memberi usulan nama, Bagus Kemal. Tak sampai disana, ternyata kakak pertama saya juga ikut mengusulkan nama untuk saya, yaitu Gust Kemal. Maklum, kakak perempuan saya ini sudah SMa waktu saya lahir. Karena, jarak antara saya dengan kakak pertama ini cukup jauh. Saya adalah bungsu dari empat bersaudara. Yang pertama dan kedua perempauan. Yang ketiga dan saya laki-laki.

Biar terkesan keren, akhirnya sepakat bahwa nama untuk saya adalah Gust Kemal Prihadi.

Gust disini, diambil dari bahasa inggris namun bukan berarti badai, namun diambil dari bulan August (Agustus dalam bahasa Inggris). Kemal diambil dari bahasa Arab Kamil yang berarti sempurna. Bukan diambil dari bahasa inggris Camel yang artinya Unta, hehe.. Adapun Prihadi, saya belum tahu persis apa artinya. Saya anggap sebagai pemanis saja. 😀

Adapun di rumah dan di kampung tempat saya tinggal juga di SD, saya dipanggil Bagus. Karena Gust Kemal Prihadi itu tertulis di akta lahir saja. Dan mulai waktu SMP-lah saya dipanggil Gust Kemal. Bersamaan dengan itu, teman-teman dan para guru disana juga takjub sekaligus heran, kok namanya aneh?
Continue reading

Jagalah hati


Hmm.. Magrib kemarin saya di-sms dosen. Awalnya nanyain jadwal uas (karena pekan ini ada uas di kampus).. Lalu saya balas sms tersebut bahwa saya baru selesai uas praktek di lab komputer.

Di sms keduanya, saya cukup kaget karena ternyata saya disuruh mengantarkan teman kuliah yang baru selesai bimbingan kepada dosen yang mengirim sms ke saya tadi.. Wah saya jadi deg degan karena teman yang mau diantar itu adalah teman yang sudah lama tak berjumpa.

Setelah selesai shalat magrib berjamaah, saya pun bergegas menuju ruang dosen dimana dosen dan teman saya menunggu disana. Sebelun sampai di ruang dosen, saya pun bertemu dengan teman saya di depan ruang rektorat. Saya sapa dan saya tanyakan apa jadi mau diantar??

Ternyata teman saya itu menolak untuk diantar. Padahal jarak dari kampus ke rumahnya cukup jauh dan agak susah angkot kalau malam.. Makanya dosen saya menyuruh saya untuk mengantarkannya.

Tapi tetap saja teman saya itu menolak untuk diantar dengan alasan masih ada angkot katanya. Tadinya saya ingin memaksa dia untuk diantarkan, tapi saya tidak ingin memaksakan. Karena sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik. Saya berharap dia aman dan selamat sampai rumahnya.

Adapun pelajaran yang dapat saya ambil bahwa sesuatu itu akn lebih menenangkan hati jika sudah pada waktunya. Janganlah memaksakan kehendak Allah SWT. Bersabarlah jika saat ini belum waktunya. Allahu a’lam.