Ikhlas itu…menentukan diterima atau tidak diterimanya aktivitas kita sebagai ibadah …
Karenanya… pastikan ia senantiasa menyertai setiap aktivitas kita

Ikhlas itu…. Ketika nasehat, kritik dan bahkan fitnah , tdk mengendorkan amalmu dan tidak membuat semangatmu punah.

Ikhlas itu… ketika hasil tak sebanding usaha dan harapan, tak membuatmu menyesali amal dan tenggelam dlm kesedihan.

Ikhlas itu… Ketika amal tidak bersambut apresiasi sebanding, tak membuatmu urung bertanding.

Ikhlas itu… Ketika niat baik disambut berbagai prasangka, kamu tetap berjalan tanpa berpaling muka.

Ikhlas itu… Ketika sepi dan ramai, sedikit atau banyak, menang atau kalah, kau tetap pada jalan lurus dan terus melangkah.

Ikhlas itu… ketika kau lebih mempertanyakan apa amalmu dibanding apa posisimu, apa peranmu dibanding apa kedudukanmu, apa tugasmu dibanding apa jabatanmu.

Ikhlas itu.. ketika ketersinggungan pribadi tak membuatmu keluar dari barisan dan merusak tatanan.

Ikhlas itu… ketika posisimu di atas, tak membuatmu jumawa, ketika posisimu di bawah tak membuatmu ogah bekerja.

Ikhlas itu… ketika khilaf mendorongmu minta maaf, ketika salah mendorongmu berbenah, ketika ketinggalan mendorongmu mempercepat kecepatan.

Ikhlas itu… ketika kebodohan orang lain terhadapmu, tidak kau balas dengan kebodohanmu terhadapnya, ketika kedzalimannya terhadapmu, tidak kau balas dengan kedzalimanmu terhadapnya

Ikhlas itu… ketika kau bisa m’hadapi wajah marah dengan senyum ramah, kau hadapi kata kasar dengan jiwa besar, ketika kau hadapi dusta dengan menjelaskan fakta.

Ikhlas itu…. Gampang diucapkan, sulit diterapkan….. namun tidak mustahil diusahakan…. . semoga Allah agar senantiasa berkenan memberikan kemudahan dan serta keistiqomahan dlm mencari rindhonya ridho-Nya.Aamiin

View on Path

Advertisements

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Titik Buta ( BLIND SPOT )

Semua petinju profesional memiliki pelatih. Bahkan, petinju sehebat Mohammad Ali sekalipun juga memiliki pelatih. Padahal jika mereka berdua disuruh bertanding jelas Mohammad Ali-lah yang akan memenangkan pertandingan tersebut.

Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa Mohammad Ali butuh pelatih kalau jelas-jelas dia akan menang melawan pelatihnya? Kita harus tahu bahwa Mohammad Ali butuh pelatih bukan karena pelatihnya lebih hebat, namun karena ia butuh seseorang untuk
melihat hal-hal yang …
“TIDAK DAPAT D̲IA LIHAT SENDIRI”

Hal yang tidak dapat kita lihat dengan mata sendiri itulah yang disebut dengan “BLIND SPOT” atau “TITIK BUTA”.
Kita hanya bisa melihat “BLIND SPOT” tersebut dengan bantuan orang lain.

Dalam hidup, kita butuh seseorang untuk mengawal kehidupan kita,
sekaligus untuk mengingatkan kita seandainya prioritas hidup kita
mulai bergeser.

↣ Kita butuh orang lain
↷ Yang menasihati,
↷ Yang mengingatkan,
↷ Bahkan yang menegur jika kita mulai melakukan sesuatu yang keliru,
Yang bahkan kita tidak pernah menyadari.

KERENDAHAN HATI kita
↷ Untuk menerima kritikan,
↷ Untuk menerima nasihat,
↷ Dan untuk menerima teguran itulah yang justru menyelamatkan kita.

Kita bukan manusia sempurna.
Biarkan orang lain menjadi “mata” kita di area ‘Blind Spot’ kita sehingga KITA BISA MELIHAT apa yang TIDAK BISA KITA LIHAT dengan pandangan diri kita sendiri.. Mudah2an Bermanfaat.

View on Path

Pandanglah ke atas (dalam urusan akhirat)


lihatlah ke atas
melihat ke atas

“Dua hal apabila dimiliki oleh seseorang dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan sabar. Dalam urusan agama (ilmu dan ibadah) dia melihat kepada yang lebih tinggi lalu meniru dan mencontohnya. Dalam urusan dunia dia melihat kepada yang lebih bawah, lalu bersyukur kepada Allah bahwa dia masih diberi kelebihan.” [HR. Tirmidzi]

Hadits di atas menegaskan kepada kita agar selalu berorientasi pada Akhirat dan juga menyuruh kepada kita agar dapat berlomba-lomba berbuat kebaikan. Makna dari melihat ke atas adalah melihat kepada orang yang lebih taat dalam urusan akhirat. Orang yang rajin ibadah mahdhahnya, orang yang baik dalam hal muamalahnya (urusan sesama manusia). Maka, orang-orang yang rajin dalam beribadah adalah orang yang patut kita tiru dan kita contoh.

Misalnya, ada orang yang rajin bersedekah. Kita harus iri dan mengikutinya untuk rajin bersedekah, bukan berarti ria, atau tidak ikhlas. Tapi niatnya karena Allah, sebagai amal pengantar kita mendekat dengan Allah SWT. Selanjutlah, tirulah orang yang rajin shalat malam atau tahajud. Orang yang rajin tahajud akan mendapatkan cahaya dan segala kemudahan dari Allah SWT. Iri jugalah kepada orang yang suka shaum sunnah: senin kamis, dawud atau shaum yaumul bidh (shaum tengah bulan pada kalender hijriyah). Dan masih banyak amalan yang lainnya sebagai motivasi kita agar senantia “melihat ke atas dalam hal akhirat.”

Tidak hanya itu, berlomba-lomba dalam kebaikan juga dapat diaplikasikan pada kehidupan bermasyarakat dan meningkatkan etos kerja. Misalnya saat kita telat masuk sekolah, janganlah beranggapan, “ah, biarin, teman-teman juga banyak yang terlambat. Berarti saya juga bisa terlambat.” Ini adalah ungkapan yang keliru. Orang yang berorientasi pada berlomba-lomba pada kebaikan, akan mengatakan, “wah, ternyata teman-teman saya banyak yang terlambat, saya tidak boleh terlambat. Saya harus menjadi teladan bagi teman-teman saya, agar mereka tidak terlambat lagi.”

Kita juga harus “melihat ke bawah” dalam urusan dunia. Bersyukurlah dengan apa yang diberikan kepada Allah SWT. Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Apapun pemberian Allah pada kita, harus senantiasa kita syukuri. Insya Allah dengan bersyukur, akan menambah rezeki kita. Misal, janganlah iri kepada orang yang mempunyai kendaraan mobil yang bagus, sedangkan kita hanya memiliki sepeda motor. Ada ungkapan bahwa, “bersyukurlah jika kamu memiliki mobil, karena orang lain hanya mempunyai motor. Bersyukurlah kita masih mempunyai motor, karena banyak saudara-saudara kita yang hanya mempunyai sepeda.” Dan seterusnya, sampai kita harus bersyukur masih mempunyai kaki untuk berjalan, karena banyak saudara-saudara kita yang tidak bisa berjalan.

Adapun tentang iri atau cemburu yang diperbolehkan, Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ، وَآنَاءَ النَّهَارِ، فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ، فَقَالَ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الحَقِّ، فَقَالَ رَجُلٌ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ

Tidak ada (sifat) iri (yang terpuji) kecuali pada dua orang: seorang yang dipahamkan oleh Allah tentang al-Qur-an kemudian dia membacanya di waktu malam dan siang hari, lalu salah seorang tetangganya mendengarkan (bacaan al-Qur-an)nya dan berkata: “Duhai kiranya aku diberi (pemahaman al-Qur-an) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan seperti (membaca al-Qur-an) seperti yang diamalkannya. Dan seorang yang dilimpahkan oleh Allah baginya harta (yang berlimpah) kemudian dia membelanjakannya di (jalan) yang benar, lalu ada orang lain yang berkata: “Duhai kiranya aku diberi (kelebihan harta) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan (bersedekah di jalan Allah) seperti yang diamalkannya” (HR. Al-Bukhari).

Dari hadits di atas menunjukkan, kita hanya boleh iri kepada orang yang dipahamkan (orang yang diberi ilmu tentang Al-Qur’an) dan membaca dan mengamalkannya, juga kepada orang yang dilimpahkan rezeki dari Allah sampai ia menyedekahkannya karenaNya. Selain itu, kita tidak boleh iri dan dengki kepada nikmat dari Allah kepada orang lain. Karena hal itu akan menimbulkan penyakit hati (qolbun marid). Ada ungkapan seorang pujangga yang berbunyi, “Janganlah berbuat zalim hanya karena dirimu merasa kuat. Sesungguhnya, jika berbuat zalim engkau akan menyesal. Kedua matamu akan tertidur sedangkan orang yang dizalimi terus terjaga. Dia berdoa kepada Allah, dan Allah itu tidak pernah tidur.” (Dr. Afif Abdullah Fattah Thabbarah) ini berlaku dengan rasa iri juga. Orang yang biri hanya sibuk mengurus dan memikirkan orang lain, ia tidak akan dapat tidur nyenyak karenanya.

Sekian yang dapat ditulis, semoga bermanfaat dan menambah ilmu bagi kita semua. Aamiin 🙂

Salam dari @gustkemal

kultwit nya disini.


Doa yang mustajab;
1. Doa setelah tahajud
2. Doa setelah dhuha
3. Doa antara adzan dan iqomah
4. Doa menjelang waktu buka puasa
5. Doa antara dua khutbah jum’at
6. Doa di penghujung hari jum’at
7. Doa ketika mendengar kokok ayam
8. Doa pemimpin yang adil
9. Doa orang yang terdzhalimi
10. Doa orangtua kepada anaknya

View on Path


~ Adab dalam berdo’a

1. mengucapkan pujian kepada allah terlebih dahulu sebelum berdo’a dan stelahnya mengucapkan shalawat kepada nabi.
2.berbaik sangka pada allah
3.mengakui dosa yg di perbuat
4.bersungguh~sungguh dalam berdo’a
5.berdo’a dan mengulanginya sbanyak 3x
6.berdo’a dgn lafazh yg singkat dn jelas namun luas maknanya
7.memulai dgn mendo’akan diri sndiri kemudian org lain
8.memilih berdo’a di waktu yg mustajab

View on Path


Kamaa tadinu tudaan = Sebagaimana kau
bersikap, maka seperti itulah kau akan
diperlakukan.
Man lam yarham lam yurham = Sesiapa
yang tak mengasihi, tak akan pernah
dikasihi.
Man lam yukrim ghairahu la yukram = Siapa
yang tidak memanusiakan orang lain, ia pun
tak akan pernah dianggap sebagai manusia.
Aththayyibat li aththayyibin = Perempuan
baik-baik diperuntukkan lelaki baik-baik
juga.
Al-ghafiluna ‘an dzikrillah fi addunya,
yansahu Allah yaumal qiyamah = Orang2
yang enggan mengingat Allah di dunia, kelak
di akherat Allah pun akan melupakannya.

View on Path