Inspirasi pagi:

Ada tiga hal yang lahir dari hadirnya ilmu, yaitu: (1) sikap hati-hati yang menghalangi seseorang dari perbuatan maksiat, (2) budi pekerti yang digunakan untuk bersikap baik kepada orang lain, dan (3) kesantunan yang digunakan untuk membalas kejahilan orang bodoh.”

(Wahab bin Munabbih) @ Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya, 10/470.

Inilah buah dari ilmu yang bermanfaat yang senantiasa dimohonkan oleh Rasulullah saw. pada pagi hari.

“Allaahumma inni as’aluka ‘ilman naafi’a wa rizqan thayyiba wa amalan mutaqabbala. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.”

(HR Ibnu Majah) @ Hisnul Muslim, No. 73.

View on Path

Advertisements

Inspirasi pagi:

“… dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman” … (QS Al-Ma’idah, 5:23)

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menjadikan tawakal sebagai syarat keimanan. Maka, indikasi lenyapnya keimanan adalah hilangnya tawakal.

Dia pun berfirman, “Berkata Musa, ‘Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, bertawakallah kepada-Nya semata, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri” … (QS Yunus, 10:84)

Maka, benarnya keislaman seorang hamba adalah dengan adanya tawakal. Semakin kuat tawakalnya, semakin kuat pula imannya. Dan, semakin lemah imannya, semakin lemah pula tawakalnya. Apabila tawakalnya lemah, sudah pasti keimanannya pun lemah … (Ibnul Qayyim Al-Jauziyah) @ Thariq Al-Hijratain.

Bagaimanakah ciri orang yang tawakal? “Dia bagaikan anak kecil yang tidak mengetahui siapapun yang dapat melindunginya selain sang ibu. Begitu pula orang yang bertawakal. Dia tidak mengetahui sesuatu yang dapat melindunginya selain Rabb-nya” … (Ibnul Qayyim Al-Jauziyah) @ Madarij As-Salikin.

View on Path

Berbisnis Ala Rasulullah SAW.


Berbisnis Ala Rasulullah SAW.

Oleh: Gust Kemal Prihadi, A. Md.

 

Anda seorang pebisnis muslim? Apakah anda sudah melaksanakan bisnis seperti yang dicontohkan sang Rasulullah SAW sebagai teladan kehidupan kita? Jika belum, silahkan simak tulisan singkat tentang berbisnis ala Rasulullah SAW ini, semoga bermanfaat.

Suatu hari, Nabi Muhammad SAW sedang berkumpul dengan para sahabat yang diantaranya adalah para aghnia (orang kaya), tiba-tiba datanglah seorang miskin yang menghampiri majelis tersebut. Sang dhuafa ini langsung menghampiri Baginda Rasulullah SAW, dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku dan keluargaku sedang kesusahan. Aku miskin. Aku memohon kepadamu untuk memberikan modal agar aku dapat berniaga (berjualan).” Nabi pun menjawab, “Engkau memiliki apa di rumah yang dapat dijual?

Aku hanya memiliki sehelai kain yang sudah lusuh, Wahai Nabiku.” Ujar sang dhuafa.

bawalah kemari kain itu, akan aku tawarkan kepada para sahabat yang sedang berkumpul disini.” Perintah Nabi. Si miskin pun pulang membawa kain lusuh itu dan kembali kepada majelis Rasulullah SAW.

Sekembailinya dari rumah, sang dhuafa memberikan kain itu kepada Nabi. Lalu, Nabi pun langsung menawarkan kepada para sahabat, “Siapa diantara kalian yang akan membeli kain ini? Aku tawarkan 7 dinar, apakah ada yang mau membeli?” para sahabat tidak ada yang menjawab. Selanjutnya Rasulullah menurunkan tawarannya menjadi 5 dinar. Namun tetap saja, tidak ada sahabat yang mengiinginkannya. Sampai akhirnya Nabi menawarkan harga 2 dinar untuk sebuah kain lusuh, barulah ada sahabat yang mau membelinya.

Setelah mendapatkan 2 dinar hasil penjualan kain itu, Nabi pun bersabda kepada sang pemilik kain, “gunakanlah satu dinar untuk makan istri dan anakmu, lalu satu dinar lagi belikanlah kapak. Gunakanlah kapak itu untuk mencari kayu bakar. Juallah ke pasar. Jangan kembali sebelum 15 hari.”

Setelah 15 hari, dhuafa itu pun kembali menghadap Nabi Muhammad SAW. Ia melaporkan bahwa ia sudah mendapatkan 10 dinar dari hasil menjual kayu bakar itu.

Subhanalloh, itulah sikap Nabi kita, Nabi Muhammad SAW dalam berbisnis. Ia tidak serta merta menawarkan para sahabat untuk memberikan modal berdagang kepada dhuafa itu, meskipun itu dapat dilakukan oleh Rasulullah SAW. Namun Nabi menyuruh menjual aset yang ia miliki sebagai modal usahanya.

Pada saat ini, kebanyakan orang yang akan berniaga kebingungan mencari modal. Sampai ia rela meminjam ke bank-bank konvesional yang memberlakukan bunga yang tinggi untuk mengembalikan uang pinjaman itu. Padalah berbisnis ala Rasulullah SAW cukup sederhana, yaitu menjual aset atau barang barang yang tidak terpakai namun memiliki harga jual sebagai modal awalnya.

Janganlah meminjam kepada bank untuk modal usaha, karena itu dapat merugikan kita. Cicilan harus dibayar menyebabkan berjualan tidak merasa tenang. Saya mendapat kisah dari guru ngaji sekaligus beliau adalah seorang pebisinis yang sukses.

Beberapa tahun yang lalu, ia mencoba berbisnis menjual kaset dan dvd lagu-lagu islami dan kumpulan ceramah. Ia meminjam modal 2 milyar rupiah kepada bank. Namun bisnis itu gagal ia laksanakan karena tidak tenang dengan tagihan dari bank. Beberapa bulan kemudian, ada koleganya menitipkan uang sebesar 24 juta rupiah. Lalu, sang ustadz menggolangkan, memutarkan uang tersebut dalam bidang produksi dan jualan kain konveksi dan baju muslim. Alhamdulillah, tanpa meminjam dari bank, setelah 4 tahun berjalan sampai saat ini, uang itu berkembang menjadi 12 milyar rupiah. Subhanallah.

Itulah sedikit ilmu tentang berbisnis ala Rasulullah SAW yang baru saya dapatkan. Semoga bermanfaat bagi anda yang akan memulai bisnis dalam bidang apapun. Wallahu a’lam bishshawwab.

 

Salam sukses..

@gustkemal

10 Muwashafat Tarbiyah


10 Muwashafat Tarbiyah, Akhlak unggulan seorang muslim.

Salimul Aqidah, Bersih Akidahnya dari sesuatu hal yang mendekatkan dan menjerumuskan dirinya dari lubang syirik.

Shahihul Ibadah, Benar Ibadahnya menurut AlQur’an dan Assunnah serta terjauh dari segala Bid’ah yang dapat menyesatkannya.

Matinul Khuluq, Mulia Akhlaknya sehingga dapat menunjukkan sebuah kepribadian yang menawan dan dapat meyakinkan kepada semua orang bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan Lil Alamin).

Qowiyul Jismi, Kuat Fisiknya sehingga dapat mengatur segala kepentingan bagi jasmaninya yang merupakan amanah/titipan dari Alloh SWT.

Mutsaqoful Fikri, Luas wawasan berfikirnya sehingga dia mampu menangkap berbagai informasi serta perkembangan yang terjadi disekitarnya.

Qodirun ‘alal Kasbi, Mampu berusaha sehingga menjadikannya seorang yang berjiwa mandiri dan tidak mau bergantung kepada orang lain dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya.

Mujahidun linafsihi, Bersungguh sungguh dalam jiwanya sehingga menjadikannya seseorang yang dapat memaksimalkan setiap kesempatan ataupun kejadian sehingga berdampak baik pada dirinya ataupun orang lain.

Haritsun ‘ala waqtihi, Efisien dalam memanfaatkan waktunya sehingga menjadikannya sebagai seorang yang pantang menyiakan waktu untuk melakukan kebaikan, walau sedetikpun. karena waktu yang kita gunakan selama hidup ini akan dipertanggungjawabkan dihadapan Alloh SWT.

Munazhom Fii Su’unihi, Tertata dalam urusannya sehingga menjadikan kehidupannya teratur dalam segala hal yang menjadi tanggung jawab dan amanahnya. Dapat menyelesaikan semua masalahnya dengan baik dengan cara yang baik.

Naafi’un Li Ghairihi, Bermanfaat bagi orang lain, sehingga menjadikannya seseorang yang bermanfaat dan dibutuhkan. Keberadaannya akan menjadi sebuah kebahagiaan bagi orang lain dan Ketiadaannya akan menjadikan kerinduan pada orang lain.

Mudah-mudahan dengan kesepuluh karakter yang dikemukakan di atas menjadikan kita termotivasi untuk dapat merealisasikannya dalam diri kita. Aamiin.
image

Itulah 10 Muwashafat Tarbiyah atau karakter utama seorang muslim. Semoga bermanfaat.

Mengukur Kualitas Hafalan Al-Qur’an


Pernahkah kita mengukur kualitas hafalan Al-Qur’an kita? Menghafal Al-Qur’an ibaratnya seperti membuat sebuah magnet. Ada dua cara yang saya ketahui dalam pembuatan magnet. Yang pertama dengan menggunakan besi, dan kedua menggunakan baja atau besi baja.

Pembuatan magnet dengan besi lebih mudah dibandingkan pembuatan magnet dengan baja. Magnet dapat dihasilkan dengan beberapa cara, namun saya akan memaparkan pembuatan magnet dengan cara menggosok.

Besi yang semula bukan magnet, dapat dijadikan magnet. Caranya besi digosok dengan salah satu ujung magnet tetap. Arah gosokan dibuat searah agar magnet elementer yang terdapat pada besi letaknya menjadi teratur dan mengarah ke satu arah. Apabila magnet elementer besi telah teratur dan mengarah ke satu arah, dikatakan besi dan baja telah menjadi magnet. Ujung-ujung besi yang digosok akan terbentuk kutub-kutub magnet. Kutub-kutub yang terbentuk tergantung pada kutub magnet yang digunakan untuk menggosok. Pada ujung terakhir besi yang digosok, akan mempunyai kutub yang berlawanan dengan kutub ujung magnet penggosoknya.

Sekali lagi, kualitas bahan memengaruhi seberapa lama magnet itu ada di dalamnya. Jika menggunakan besi, magnet akan cepat tercipta, namun akan cepat juga hilang. Karena kekuatan besi lebih kecil daripada baja.

Berbeda dengan baja, meskipun cara pembuatan magnenya sama, yaitu dengan digosokkan kepada magnet tetap, namun magnet yang akan dihasilkan akan lebih kuat. Hal ini disebabkan karena magnet yang dihasilkan akan lebih lama dan sulit tercipta. Oleh karena itu butuh kesabaran yang lebih untuk menghasilkan magnet dari baja. Hasilnya, baja akan lebih kuat mempertahankan magnet yang ada di dalamnya dibandingkan dengan besi.

Begitu pula dengan hafalan Al-Qur’an. Jika ingin tetap melekat, cara menghafal Al-Qur’an harus lebih banyak diulang. Al-Qur’an merupakan kitab suci dan referensi kehidupan umat Islam. Salah satu mukjizatnya adalah dapat dihafalkan dengan mudah dibandingkan kitab agama lain. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Qomar ayat 17 :

 

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

17. dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS. 54, Al-Qomar: 17)

 

Sudah seharusnya kita pasti dapat menghafalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, karena Allah sendiri telah memudahkannya untuk itu. Tingal kita pilih, apakah kita akan menghafalkan dengan metode magnet besi, cepat hafal, namun cepat lupa; ataukah dengan metode magnet baja, perlu kesabaran ekstra untuk mengulang-ngulang namun akan tetap melekat dalam hati dan pikiran kita? Semua tergantung anda.

hafalan edit

Sekian pembahasan tentang cara mengukur kualitas hafalan Al-Qur’an. Semoga Allah memberikan hidayah kemudahan kepada kita semua untuk menghafalkan Al-Qur’an karim. Allahu a’lam bishshawwab.

Pecel Lele pun Ada di Surga


Setiap orang pasti pernah menyantap menu makanan pecel lele. Kalau pun belum pernah mencoba, minimal pernah mendengar atau melihat warungnya di pinggir jalan raya. Namun pernahkah mendengar bahwa pecel lele ada di surga? Sekiranya, jika Allah berkehendak, pasti Allah akan menyediakan pecel lele di surga kelak. Insya Allah..

Suatu saat saya mendekorasi panggung untuk pentas anak di sebuah malam. Dalam waktu yang bersamaan perut pun berontak, Kamu ingin dimasuki oleh beberapa suap makanan. Terlintas di pikiran ingin membeli nasi uduk dan pecel lele. Tapi apesnya, uang di dompet hanya tersisa sedikit, hanya cukup untuk membeli bensin satu liter. Lalu tiba-tiba saja saya teringat perkataan Umar bin Khattab, yang berbunyi: “Hendaklah kalian menghisab diri kalian pada hari ini, karena hal itu akan meringankanmu di hari perhitungan.” (Shifatush Shafwah, I/286)

Apa sih hubungannya antara pecel lele dan perkataan ‘Umar di atas? Perasaan jauh sekali ya? Nah, dari sinilah saya akan menyambungkannya. Ini berhubungan dengan cerita saya mengenai kekurangan bekal saat mau membeli pecel lele untuk makan malam. Bayangkan kondisi-kondisi berikut:

  1. Kamu akan membeli pecel lele karena lapar, tapi sadar bahwa uang didompet terbatas. lantas, kamu tidak jadi untuk membelinya. Kemungkinan yang pertama, kamu akan menahan rasa lapar itu sampai pagi harinya atau Kamu akan meminjam uang pada teman untuk membeli pecel lele tersebut.
  2. Kamu akan membeli pecel lele, lalu pergi ke warung pecel lele. Tapi kamu tidak menyadari bahwa uang didompet terbatas. Bagaiamanakah perasaanmu saat itu? Mungkin minimal akan merasa malu, karena sudah memesan. Atau kamu malah kesal karena tidak jadi makan.
  3. Saat lapar, kamu akan membeli pecel lele dan benar membeli makanan itu karena yakin mempunyai uang yang cukup untuk membelinya. Akhirnya, makan malam itu sukses membuatmu kenyang menikmati pecel lele favoritmu.

Kondisi-kondisi di atas tersebut dapat dianalogikan pada kehidupan kita baik di dunia maupun di akhirat kelak. Setiap diri kita menginginkan cita-cita tertinggi dalam kehidupan ini, puncak tertinggi cita-cita adalah keridhaan Allah memasukkan kita kepada surgaNya. Namun bagi setiap manusia, tidak begitu saja bisa memasuki surga. Allah memberikan tiket masuknya melalui syarat-syarat dan ketentuan yang Ia tetapkan.

الم {1} أَحَسِبَالنَّاسُأَنيُتْرَكُواأَنيَقُولُواءَامَنَّاوَهُمْلاَيُفْتَنُونَ {2} وَلَقَدْفَتَنَّاالَّذِينَمِنقَبْلِهِمْفَلَيَعْلَمَنَّاللهُالَّذِينَصَدَقُواوَلَيَعْلَمَنَّالْكَاذِبِينَ {3}

Alif laaf miim,[1]. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?[2]. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta,[3].

 

Ayat di atas menjelaskan bahwa untuk masuk surga, kita harus melawati ujian-ujian dari Allah berupa perintah ibadah dan meninggalkan maksiat. Perintah dan larangan Allah yang dalam istilah disebut syariat ini adalah tiket atau bekal yang akan memasukkan kita kepada surga-Nya.

Jika bekal sudah dirasa cukup dan kita berkhusnudzan bekal itu akan mengantarkan kepada surga Allah, insya Allah dengan ijinNya kita akan memasuki surga yang diinginkan oleh semua orang mukmin di dunia. Namun, kita perlu menanamkan juga “perasaan khawatir” karena bekal yang kita siapkan belum cukup. Hal ini akan memicu kita untuk meningkatkan kualiatas dan kuantitas ibadah kita kepada Allah SWT.

Sama halnya dengan kondisi membeli pecel lele di atas. Kondisi yang pertama, kita mempunyai cita-cita ingin masuk surga, dan kita menyadari bahwa bekal untuk kesana merasa belum cukup, tentunya kita akan meningkatkan ibadah kita. Shalat lebih khusu, puasa lebih sabar, sedekah lebih ikhlas. Juga untuk ibadah yang lainnya, maka dengan sendirinya kekhawatiran itu akan sirna, berubah menjadi rasa optimis dalam diri bahwa ia akan bertemu dengan Rabb-nya.

Kedua, seseorang ingin masuk surga tapi tidak menyadari bahwa bekal masih kurang. Kondisi ini memungkinkan orang akan selalu melakukan kesalahan dan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala. Inilah yang perlu kita evaluasi, sejauh mana kesadaran kita akan menghitung amalan sebagai bekal kita menuju negeri yang lebih abadi? Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah dan mengingatkan kepada kepada kita semua kemampuan untuk menghisab (amalan) diri, sebagaimana perkataan Umar dengan readaksi yang mirip di awal cerita ini, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah Swt kelak.”

Ketiga, kondisi saat hati kita ikhlas dalam beribadah kepada Allah, maka Ia pun akan memanggilnya masuk ke dalam surga disebabkan amalan nya yang selalu khusu’, tidak dicampuri dengan syirik kepada Allah Swt. Orang ini lah yang mempunyai bekal untuk masuk ke dalam surga, ia tidak takut dan khawatir mengenai amalan yang sudah ia tunaikan.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-fajr (89) ayat 28-30:

28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

29. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku,

30. masuklah ke dalam syurga-Ku.

 

Sekian yang dapat saya ceritakan. Mohon maaf jika ada banyak kesalahan. Semoga tulisan ini menjadi pengingat untuk mempersiapkan bekal kita menuju negeri akhirat. Aamiin. Allahumma aamiin 🙂


Maka, jangan sekali-kali memandang kecil segala perbuatan baikmu, barangkali saja saat kamu tertidur pulas, sementara pintu-pintu langit diketuk puluhan do’a yang ditujukan untukmu, do’a yang berasal dari orang fakir/miskin yang kamu bantu, atau sahabatmu yang kamu ringankan bebannya, atau orang sedih yang kamu hibur, atau orang lewat yang kamu senyum padanya, atau orang yang sedang kesempitan yang kamu lapangkan urusannya. – with Susan, Rita, Wafa , Arina Murti, Itep Saepul , Dhiny, Annisa, Fitriya, Rabbani, WILDAN, Erwan, Reni, yance , Andy, Nina, Hamzah, Diandini, LuLu, Cekpuan, Maidan, ikiiMPPP, 👸Reghyna, and Lathifa

View on Path