Perjalanan Bisnis Sang Istri :D


Coach bisnis saya adalah ibu..
Beliau yang memberikan motivasi begitu besar untuk mengarungi dunia “berdagang”.
Sejak saya kecil hidup hanya berdua dengan ibu, karena ayah telah wafat. Ibu benar-benar berjuang memberikan yang terbaik untuk mengasuh dan menyekolahkan saya sampai sarjana.
Dari kelas 3 SD saya mulai berjualan, mulai dari jualan note (buku catatan) sederhana. Saya mengumpulkan lembaran2 kertas yg masih kosong dari buku tulis (karena biasanya dalam 1 tahun buku tulis tidak penuh semua) lembaran kertas itu saya satukan lalu saya gunting dg berbagai ukuran dan berbagai ketebalan. Saya tambahkan sampul dari gambar2 lucu, lalu saya jual pada teman2 sekelas seharga 50-100 rupiah.
Setelah itu, masih di bangku SD saya jualan peniti yang dihias dengan manik-manik. Saya merangkai sendiri manik-maniknya yang biasa saya temukan dari baju-baju bekas dan tidak terpakai πŸ™‚
Masih ketika SD, di bulan Ramadhan saya selalu berjualan gelembung sabun. πŸ™‚
Resep pembuatannya hasil eksperimen saya sendiri, dan itu masih saya ingat sampai sekarang. Gelembung sabun yang saya buat disukai teman-teman, sebab selain harganya murah, isinya banyak dan gelembung yang dihasilkan berlimpah ruah.. πŸ˜€
Jika siangnya saya jualan, sore-sore saya ngabuburit sambil mencari jajanan yang agak istimewa seperti martabak untuk saya santap di waktu berbuka..
Indah.. kenangan itu. Dan saya begitu menikmatinya meski usia masih kecil saat itu.

SMP dan SMA saya bantu ibu berjualan di rumah dan membuat cemilan untuk dititipkan ke warung tetangga. Dan ini adalah satu-satunya sumber penghasilan ibu untuk biaya hidup kami berdua. Dan sampai sekarang ibu masih terus menekuninya πŸ™‚

Menginjak kuliah, disaat tunggakan biaya mulai tak terbendung saya mencari peluang wirausaha.
Kemudian dengan modal 25.000 saya membuat cheese stick, lalu saya bawa ke kampus. Laris alhamdulillaah..
Lelah tapi nikmat..
Pulang kuliah, belanja ke pasar, bikin pesanan, biasanya selesai sampai jam 2 pagi. Rehat sebentar, lalu berangkat pagi untuk memberikan pesanan.

Cheese stick ini masih saya jalani sampai sekarang dengan Brand Astrajingga Cheese Stick.

Bebrapa waktu kemarin, mendapat tantangan dari ayah mertua untuk memiliki rumah tanpa riba. Lalu Allah memberikan jalan, berupa berjualan pizza. Dan pelanggan pizza alhamdulillaah merespon positif produk saya. Tinggal sekarang bingung cara mengembangkannya πŸ˜€

Semua saya lakukan hanya dari rumah, menanggalkan ijazah dan gelar akademik namun mengaplikasikan ilmu yg didapat selama menimbanya.

Alhamdulillaah ‘ala kulihaal..

oleh: Ratna Dewi, Owner Astrajingga Bakery (Cheese Stick, Nugget, Pizza & Katering)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s