Pecel Lele pun Ada di Surga


Setiap orang pasti pernah menyantap menu makanan pecel lele. Kalau pun belum pernah mencoba, minimal pernah mendengar atau melihat warungnya di pinggir jalan raya. Namun pernahkah mendengar bahwa pecel lele ada di surga? Sekiranya, jika Allah berkehendak, pasti Allah akan menyediakan pecel lele di surga kelak. Insya Allah..

Suatu saat saya mendekorasi panggung untuk pentas anak di sebuah malam. Dalam waktu yang bersamaan perut pun berontak, Kamu ingin dimasuki oleh beberapa suap makanan. Terlintas di pikiran ingin membeli nasi uduk dan pecel lele. Tapi apesnya, uang di dompet hanya tersisa sedikit, hanya cukup untuk membeli bensin satu liter. Lalu tiba-tiba saja saya teringat perkataan Umar bin Khattab, yang berbunyi: “Hendaklah kalian menghisab diri kalian pada hari ini, karena hal itu akan meringankanmu di hari perhitungan.” (Shifatush Shafwah, I/286)

Apa sih hubungannya antara pecel lele dan perkataan ‘Umar di atas? Perasaan jauh sekali ya? Nah, dari sinilah saya akan menyambungkannya. Ini berhubungan dengan cerita saya mengenai kekurangan bekal saat mau membeli pecel lele untuk makan malam. Bayangkan kondisi-kondisi berikut:

  1. Kamu akan membeli pecel lele karena lapar, tapi sadar bahwa uang didompet terbatas. lantas, kamu tidak jadi untuk membelinya. Kemungkinan yang pertama, kamu akan menahan rasa lapar itu sampai pagi harinya atau Kamu akan meminjam uang pada teman untuk membeli pecel lele tersebut.
  2. Kamu akan membeli pecel lele, lalu pergi ke warung pecel lele. Tapi kamu tidak menyadari bahwa uang didompet terbatas. Bagaiamanakah perasaanmu saat itu? Mungkin minimal akan merasa malu, karena sudah memesan. Atau kamu malah kesal karena tidak jadi makan.
  3. Saat lapar, kamu akan membeli pecel lele dan benar membeli makanan itu karena yakin mempunyai uang yang cukup untuk membelinya. Akhirnya, makan malam itu sukses membuatmu kenyang menikmati pecel lele favoritmu.

Kondisi-kondisi di atas tersebut dapat dianalogikan pada kehidupan kita baik di dunia maupun di akhirat kelak. Setiap diri kita menginginkan cita-cita tertinggi dalam kehidupan ini, puncak tertinggi cita-cita adalah keridhaan Allah memasukkan kita kepada surgaNya. Namun bagi setiap manusia, tidak begitu saja bisa memasuki surga. Allah memberikan tiket masuknya melalui syarat-syarat dan ketentuan yang Ia tetapkan.

الم {1} أَحَسِبَالنَّاسُأَنيُتْرَكُواأَنيَقُولُواءَامَنَّاوَهُمْلاَيُفْتَنُونَ {2} وَلَقَدْفَتَنَّاالَّذِينَمِنقَبْلِهِمْفَلَيَعْلَمَنَّاللهُالَّذِينَصَدَقُواوَلَيَعْلَمَنَّالْكَاذِبِينَ {3}

Alif laaf miim,[1]. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?[2]. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta,[3].

 

Ayat di atas menjelaskan bahwa untuk masuk surga, kita harus melawati ujian-ujian dari Allah berupa perintah ibadah dan meninggalkan maksiat. Perintah dan larangan Allah yang dalam istilah disebut syariat ini adalah tiket atau bekal yang akan memasukkan kita kepada surga-Nya.

Jika bekal sudah dirasa cukup dan kita berkhusnudzan bekal itu akan mengantarkan kepada surga Allah, insya Allah dengan ijinNya kita akan memasuki surga yang diinginkan oleh semua orang mukmin di dunia. Namun, kita perlu menanamkan juga “perasaan khawatir” karena bekal yang kita siapkan belum cukup. Hal ini akan memicu kita untuk meningkatkan kualiatas dan kuantitas ibadah kita kepada Allah SWT.

Sama halnya dengan kondisi membeli pecel lele di atas. Kondisi yang pertama, kita mempunyai cita-cita ingin masuk surga, dan kita menyadari bahwa bekal untuk kesana merasa belum cukup, tentunya kita akan meningkatkan ibadah kita. Shalat lebih khusu, puasa lebih sabar, sedekah lebih ikhlas. Juga untuk ibadah yang lainnya, maka dengan sendirinya kekhawatiran itu akan sirna, berubah menjadi rasa optimis dalam diri bahwa ia akan bertemu dengan Rabb-nya.

Kedua, seseorang ingin masuk surga tapi tidak menyadari bahwa bekal masih kurang. Kondisi ini memungkinkan orang akan selalu melakukan kesalahan dan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala. Inilah yang perlu kita evaluasi, sejauh mana kesadaran kita akan menghitung amalan sebagai bekal kita menuju negeri yang lebih abadi? Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah dan mengingatkan kepada kepada kita semua kemampuan untuk menghisab (amalan) diri, sebagaimana perkataan Umar dengan readaksi yang mirip di awal cerita ini, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah Swt kelak.”

Ketiga, kondisi saat hati kita ikhlas dalam beribadah kepada Allah, maka Ia pun akan memanggilnya masuk ke dalam surga disebabkan amalan nya yang selalu khusu’, tidak dicampuri dengan syirik kepada Allah Swt. Orang ini lah yang mempunyai bekal untuk masuk ke dalam surga, ia tidak takut dan khawatir mengenai amalan yang sudah ia tunaikan.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-fajr (89) ayat 28-30:

28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

29. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku,

30. masuklah ke dalam syurga-Ku.

 

Sekian yang dapat saya ceritakan. Mohon maaf jika ada banyak kesalahan. Semoga tulisan ini menjadi pengingat untuk mempersiapkan bekal kita menuju negeri akhirat. Aamiin. Allahumma aamiin 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s