Pandanglah ke atas (dalam urusan akhirat)


lihatlah ke atas
melihat ke atas

“Dua hal apabila dimiliki oleh seseorang dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan sabar. Dalam urusan agama (ilmu dan ibadah) dia melihat kepada yang lebih tinggi lalu meniru dan mencontohnya. Dalam urusan dunia dia melihat kepada yang lebih bawah, lalu bersyukur kepada Allah bahwa dia masih diberi kelebihan.” [HR. Tirmidzi]

Hadits di atas menegaskan kepada kita agar selalu berorientasi pada Akhirat dan juga menyuruh kepada kita agar dapat berlomba-lomba berbuat kebaikan. Makna dari melihat ke atas adalah melihat kepada orang yang lebih taat dalam urusan akhirat. Orang yang rajin ibadah mahdhahnya, orang yang baik dalam hal muamalahnya (urusan sesama manusia). Maka, orang-orang yang rajin dalam beribadah adalah orang yang patut kita tiru dan kita contoh.

Misalnya, ada orang yang rajin bersedekah. Kita harus iri dan mengikutinya untuk rajin bersedekah, bukan berarti ria, atau tidak ikhlas. Tapi niatnya karena Allah, sebagai amal pengantar kita mendekat dengan Allah SWT. Selanjutlah, tirulah orang yang rajin shalat malam atau tahajud. Orang yang rajin tahajud akan mendapatkan cahaya dan segala kemudahan dari Allah SWT. Iri jugalah kepada orang yang suka shaum sunnah: senin kamis, dawud atau shaum yaumul bidh (shaum tengah bulan pada kalender hijriyah). Dan masih banyak amalan yang lainnya sebagai motivasi kita agar senantia “melihat ke atas dalam hal akhirat.”

Tidak hanya itu, berlomba-lomba dalam kebaikan juga dapat diaplikasikan pada kehidupan bermasyarakat dan meningkatkan etos kerja. Misalnya saat kita telat masuk sekolah, janganlah beranggapan, “ah, biarin, teman-teman juga banyak yang terlambat. Berarti saya juga bisa terlambat.” Ini adalah ungkapan yang keliru. Orang yang berorientasi pada berlomba-lomba pada kebaikan, akan mengatakan, “wah, ternyata teman-teman saya banyak yang terlambat, saya tidak boleh terlambat. Saya harus menjadi teladan bagi teman-teman saya, agar mereka tidak terlambat lagi.”

Kita juga harus “melihat ke bawah” dalam urusan dunia. Bersyukurlah dengan apa yang diberikan kepada Allah SWT. Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Apapun pemberian Allah pada kita, harus senantiasa kita syukuri. Insya Allah dengan bersyukur, akan menambah rezeki kita. Misal, janganlah iri kepada orang yang mempunyai kendaraan mobil yang bagus, sedangkan kita hanya memiliki sepeda motor. Ada ungkapan bahwa, “bersyukurlah jika kamu memiliki mobil, karena orang lain hanya mempunyai motor. Bersyukurlah kita masih mempunyai motor, karena banyak saudara-saudara kita yang hanya mempunyai sepeda.” Dan seterusnya, sampai kita harus bersyukur masih mempunyai kaki untuk berjalan, karena banyak saudara-saudara kita yang tidak bisa berjalan.

Adapun tentang iri atau cemburu yang diperbolehkan, Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ، وَآنَاءَ النَّهَارِ، فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ، فَقَالَ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الحَقِّ، فَقَالَ رَجُلٌ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ

Tidak ada (sifat) iri (yang terpuji) kecuali pada dua orang: seorang yang dipahamkan oleh Allah tentang al-Qur-an kemudian dia membacanya di waktu malam dan siang hari, lalu salah seorang tetangganya mendengarkan (bacaan al-Qur-an)nya dan berkata: “Duhai kiranya aku diberi (pemahaman al-Qur-an) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan seperti (membaca al-Qur-an) seperti yang diamalkannya. Dan seorang yang dilimpahkan oleh Allah baginya harta (yang berlimpah) kemudian dia membelanjakannya di (jalan) yang benar, lalu ada orang lain yang berkata: “Duhai kiranya aku diberi (kelebihan harta) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan (bersedekah di jalan Allah) seperti yang diamalkannya” (HR. Al-Bukhari).

Dari hadits di atas menunjukkan, kita hanya boleh iri kepada orang yang dipahamkan (orang yang diberi ilmu tentang Al-Qur’an) dan membaca dan mengamalkannya, juga kepada orang yang dilimpahkan rezeki dari Allah sampai ia menyedekahkannya karenaNya. Selain itu, kita tidak boleh iri dan dengki kepada nikmat dari Allah kepada orang lain. Karena hal itu akan menimbulkan penyakit hati (qolbun marid). Ada ungkapan seorang pujangga yang berbunyi, “Janganlah berbuat zalim hanya karena dirimu merasa kuat. Sesungguhnya, jika berbuat zalim engkau akan menyesal. Kedua matamu akan tertidur sedangkan orang yang dizalimi terus terjaga. Dia berdoa kepada Allah, dan Allah itu tidak pernah tidur.” (Dr. Afif Abdullah Fattah Thabbarah) ini berlaku dengan rasa iri juga. Orang yang biri hanya sibuk mengurus dan memikirkan orang lain, ia tidak akan dapat tidur nyenyak karenanya.

Sekian yang dapat ditulis, semoga bermanfaat dan menambah ilmu bagi kita semua. Aamiin 🙂

Salam dari @gustkemal

kultwit nya disini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s